Semangat Masyarakat Tengger Peringati Karo
14 September 2020 | Dilihat 89 kali | Penulis Fadly . Redaktur Fadly
Foto : Dok. Kominfo-Lmj

Dalam rangkaian peringatan Hari Raya Karo di Desa Ranupani Kecamatan Senduro, pertunjukan Seni Tayub menjadi hal yang penting sebagai hiburan masyarakat. Dilaksanakan selama satu hari dua malam, mulai tanggal 13-14 September 2020, kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lumajang, Thoriqul Haq dan Ketua DPRD Kabupaten Lumajang, Anang Akhmad Syaifuddin.

Bupati mengaku senang melihat semangat masyarakat dalam memajukan daerahnya. Dirinya menyampaikan banyak perubahan yang terjadi di Desa Ranupani, menurutnya Desa Ranupani lebih maju.

"Saya senang sekali melihat masyarakat punya semangat masyarakatnya untuk maju, banyak perubahan dari yang dulu, ayo bareng-bareng dengan pemerintah memajukan Ranupani," ujarnya. Minggu (13/9/2020) malam.

Bupati yang akrab disapa Cak Thoriq itu mengatakan Desa Ranupani merupakan pintu gerbang pariwisata Lumajang. Oleh karena itu Bupati menyampaikan rencana pengembangan potensi wisata di Ranupani. Akan dilakukan pembangunan Rest Area yang di dalamnya juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk pemenuhan kuliner khas Ranupani.

Sementara, Kepala Desa Ranupani, Untung Raharjo menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati dan jajaran Pemerintah Kabupaten Lumajang yang telah berkenan merayakan Hari Raya Karo bersama masyarakat Tengger di Desa Ranupani.

Dirinya berharap rasa syukur yang ungkapkan dalam perayaan Hari Raya Karo nantinya dapat meningkatkan bidang pariwisata dan pertanian yang saat ini menjadi unggulan Desa Ranupani.

"Saya harapkan atas kerukunan dan kekompakan masyarakat menjadikan desa yang mandiri dalam segala hal, khususnya bidang pariwisata dan pertanian," terangnya.

Disisi lain, Satumat salah satu tokoh masyarakat menjelaskan perayaan Hari Raya Karo merupakan adat masyarakat tengger yang bertujuan untuk memohon keselamatan agar terhindar dari segala musibah.

"Karo kersane selamatan sedoyo, monggo lanjut, niki adat sanes agami, monggo dijagi sareng-sareng, monggo gotong royong mboten tukaran, kersane adat istiadat tetep dilaksanaaken, pun ical masalah adat istiadat, (Ini supaya semua selamat, silahkan untuk dilanjut, ini adalah adat bukan agama oleh karena itu mari dijaga bersama gotong royong tidak perlu berselisih supayanadat tetap dilaksanakan tidak hilang terkait adatnya)," jelasnya. (Kominfo-Lmj/Fd)