Rumah Edukasi Kampung Biru Deun di Lumajang Berikan Pengetahuan tentang Alam
14 Juni 2021 | Dilihat 201 kali | Penulis Anam . Redaktur Anam
Foto : Dok. Kominfo-lmj

Di Kabupaten Lumajang tidak banyak ada tempat khusus untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan alam dan sekitarnya, salah satunya adalah tentang tumbuh-tumbuhan.

Dengan alasan tersebut, maka Bambang Endro yang merupakan warga Desa Kaliboto Lor Kecamatan Jatiroto Kabupaten Lumajang mempunyai gagasan untuk mendirikan sebuah tempat bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam, dan tempat tersebut diberi nama Rumah Edukasi Kampung Biru Deun.

Saat dimintai keterangan di Rumah Edukasi Biru Deun, Selasa (8/6/2021), Bambang Endro mengungkapkan, bahwa mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam itu sangat penting, karena nanti dengan mempelajari mengenai makhluk hidup dan alam sekitar, maka nantinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Belajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam itu penting, karena ilmu itu akan bisa bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, dengan mengenal macam-macam khasiat tanaman obat alami untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit tanpa harus membeli obat-obatan,” ungkapnya.

Menurut Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang Bekti Sawiji, dilihat dari struktur bangunan Rumah Edukasi Kampung Biru Deun cukuplah unik, karena bangunan markas tersebut adalah sebuah rumah kuno peninggalan zaman Belanda, dengan Sastroprawirjo sebagai pemilik awalnya, yang sekaligus adalah kakek dari Bambang Endro.

“Dulu rumah ini dijuluki “Kemetiran” tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai “Sinderan”, hingga saat ini, bangunan ini tidak mengalami banyak perubahan, karena sekitar Tahun 1958 pernah dilakukan sedikit renovasi, tetapi hal itu memengaruhi bentuk aslinya,” kata dia.

Selain itu, dikatakan Bekti, bahwa saat masuk ke pelataran rumah itu, nantinya pengunjung akan melihat berbagai macam tanaman, baik pohon kayu maupun buah-buahan, sehingga bisa langsung berbagai penjelasan mengenai pepohonan tersebut mulai nama latinnya, habitatnya, serta musim berbuahnya. Pelataran ini benar-benar penuh dengan pepohonan yang tingginya ada yang mencapai 2-3 meter.

“Selain pohon yang berukuran besar, ternyata Endro juga memiliki sejumlah koleksi bonsai. Banyak diantara bonsai tersebut yang berusia puluhan tahun. Sebut saja ada bonsai beringin yang amat langka. Bila menghendaki, nanti pengunjung juga bisa meminta penjelasan lebih detil tentang cara membudidayakan tanaman dengan cara bonsai,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa sebelum melanjutkan wisata pengenalan tanaman, pengunjung biasanya diajak masuk dulu ke ruang tamu rumah kuno tersebut, dan disana ruang tamu cukup luas untuk ukuran rumah biasa, kira-kira 4 x 6 meter.

“Nanti, orang yang berkunjungan akan disuguhi terlebih dahulu minuman khas Rumah Edukasi Kampung Biru Deun, yaitu kopi mint atau lemon mint. Tak cukup itu, tamu juga disuguhi kue-kue gorengan seperti pisang goreng dan banyak lagi,” imbuhnya.

Kemudian, setelah puas menyeruput kopi dan mendapatkan sedikit pengarahan singkat dari sang pemandu, yang tidak lain Endro sendiri, tamu akan diajak keluar rumah dan memulai “Tur”, dengan mengelilingi rumah dan kebun milik Endro.

Selama berkeliling, Endro tak henti-hentinya akan menjelaskan satu demi satu nama-nama pohon atau buah yang ada di sana. Pendeknya, tamu akan merasa puas mendapatkan penjelasan seputar tanaman.

Beberapa koleksi tanaman langka juga ada di sana, sebut saja tanaman juwet putih. Saat ini, jangankan juwet putih, juwet ungu saja sudah jarang ditemukan di Lumajang. Menurut keterangan dari Endro, Tanaman Juwet Putih ini diperkirakan akan berbuah sekitar bulan November 2021 nanti, karena saat ini sedang berbunga.

Setelah penat mengelilingi kebun dan sebelum tamu beranjak pulang, pengunjung akan diterima kembali di ruang tamu untuk mendapatkan makan siang. Sungguh sebuah “Tur” yang menyenangkan. (Kominfo-lmj/An-m)

Portal Berita Lumajang V.2.1 © Hak Cipta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang | Dibuat dan dikembangkan dengan