Fenomena Koyo di Ranu Klakah Lumajang, Warga Serbu Ikan Murah
26 Juli 2022 | Dilihat 138 kali | Penulis Fadli . Redaktur Anam
Foto : Dok. Kominfo-lmj

Fenomena Koyo atau juga disebut Upwelling yang terjadi setiap tahun di Ranu Klakah menyebabkan kerugian para pemilik keramba. Air ranu yang terkontaminasi belerang, menyebabkan ikan mabuk dan mengambang di permukaan air.

Para pemilik keramba yang berada di Ranu Klakah terpaksa harus memanen hasil keramba secara dini. Mereka pun harus menelan kerugian dari fenomena koyo tersebut.

"Ya itungannya rugi, soalnya kalau harga normal kita jualnya 35 ribu per kilogram, sekarang ini 15 - 25 ribu tergantung ukurannya," kata salah satu pemilik keramba, Yudi saat ditemui di sekitar Ranu Klakah, Selasa (26/7/2022).

Yudi mengatakan, bahwa fenomena koyo mulai terjadi sejak kemarin, biasanya berlangsung selama sepekan.

"Biasanya seminggu ini, kalau mulainya kemarin pagi," ujar dia.

Yudi pun terpaksa memanen hasil kerambanya dan dijual di pinggir jalan masuk menuju Ranu Klakah dengan harga separuh lebih murah dari biasanya.

Berbeda dengan Yudi, Muhammad Yunus salah satu pembeli yang berasal dari Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe mengaku mendapatkan banyak titipan dari banyak saudaranya. Meskipun jarak tempuh dari rumahnya ke Ranu Klakah cukup jauh, hal tersebut bukan masalah karena harga ikan Koyo relatif murah.

"Iya ini mborong, banyak titipan saudara soalnya," terangnya.

Diketahui, Koyo adalah kondisi perbedaan suhu yang mengakibatkan massa air lapisan bawah naik ke atas, sehingga pergerakan air secara vertikal dari bawah membawa material seperti belerang. (Kominfo-lmj/Fd)

Portal Berita Lumajang V.2021.2.1 © Hak Cipta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang | Dibuat dan dikembangkan dengan