Tradisi Nyadran Jadi Penutup Upacara Karo Suku Tengger di Desa Ranupani
19 September 2020 | Dilihat 109 kali | Penulis Dika . Redaktur Fadly
Foto : Dok. Kominfo-Lmj

Peringatan hari Raya Karo tahun ini, atau tahun Saka 1942, masyarakat Suku Tengger yang berada di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang berlangsung dalam masa pandemi Covid-19. Namun hal itu tidak mengurangi khidmatnya peringatan tersebut. Salah satu tradisi yang digelar dalam rangkaian Hari Raya Karo adalah tradisi Nyadran yang digelar pada hari Jum'at, (18/9/2020).

Dengan membawa bunga dan sesajen, masyarakat Suku Tengger Desa Ranupani berbondong-bondong mendatangi pemakaman umum yang ada di desa setempat. Yang menarik dalam tradisi Nyadran masyarakat Tengger menggunakan pakaian adat saat berziarah, iring-iringan masyarakat menuju makam beserta tetabuhan alat musik khas Tengger juga mengiringi pelaksanaan tradisi ziarah kubur Suku Tengger di Desa Ranupani.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Badan Pengawas Desa Ranupani, Tuangkat menyampaikan, ritual Nyadran merupakan acara terakhir atau sebagai ritual penutup Hari Raya Karo sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

"Semua masyarakat Tengger yang ada di Ranupani akan pergi ke makam untuk mengikuti ritual Nyadran, sebelum ziarah berlangsung ritual ini diawali dengan adanya japa mantra dari Romo Dukun, baru setelah itu masyarakat boleh melaksanakan ziarah ke makam para leluhur," ungkapnya.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa ritual Nyadran merupakan tradisi atau adat dari Suku Tengger yang digelar setelah tujuh hari dari Upacara Karo, dengan diikuti oleh seluruh masyarakat Tengger yang ada di Ranupani, karena itu ritual tersebut tidak membedakan agama satu dengan yang lainnya.

"Kalau keyakinan masing-masing kita tidak bisa menuntut keyakinan orang, tetapi yang namanya adat harus disengkuyung secara bersama-sama, baik muslim atau non muslim. Disini paling kuat kearifan lokalnya, jadi tidak ada namanya adat disangkut pautkan dengan agama," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ranupani, Untung Raharjo mengungkapkan, Tradisi Nyadran dilakukan oleh penduduk Ranupani setiap tahun sekali, tepatnya pada peringatan Hari Raya Karo. Tradisi nyadran sendiri sudah turun temurun dan itu sudah tradisi para leluhur yang harus tetap dijaga kelestariannya. Untuk itu, ia berharap agar masyarakat Desa Ranupani dapat menjaga kearifan lokal yaitu tradisi Nyadran budaya leluhur Suku Tengger.

"Tradisi ini mengingatkan bahwa keguyuban, kebersamaan masyarakat Ranupani masih tetap terjalin. Terlihat sampai siang hari ini masyarakat berbondong-bondong untuk datang merayakan Hari Raya Karo, khususnya mengikuti ritual Nyadran ini. Sehingga terlihat jelas kerukunan diantara warga Ranupani," ujarnya. (Kominfo-Lmj/ad)

Portal Berita Lumajang V.2.1 © Hak Cipta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang | Dibuat dan dikembangkan dengan